Saturday, May 8, 2010


DAMAI DENGAN TARIAN SUFI

Oleh. A Ajidin[*]

Tokoh Jalaludin ar-Rumi, seorang sufistik yang mengagungkan kecintaannya pada Sang Khaliq lewat lantunan bait-bait syairnya. Semua orang mengaguminya. Tak terlepas dari sosoknya memberikan gambaran cinta lewat lantunan bait-bait syair.

Kecintaan seseorang memang, bisa di gambarkan lewat apa saja. Tak terlepas bait-bait syair ar-Rumi menjelaskan dan menggambarkan tentang makna cinta itu. Ia lantunkan untuk memuji dan mengagungkan Sang pencipta jagat raya ini.

Memang, sangat indah. Ketika cinta itu di ilustrasikan lewat bait-bait syair dan tarian. Sebagaimana, pernah saya lihat, ketika tarian sufi itu dipertontonkan pada khalayak ramai. Di dalamnya dinyanyikan bait-bait syair, menggambarkan begitu agung dan mulia Sang Pencipta. Seolah-olah Tuhan itu mendekat, ketika tarian dan lagu itu lantunkan.

Nah, itu saya saksikan di Wakelat el-Ghouri Arts Center, al-Tannoura Traditional Troup. Tidak jauh dari masjid al-Azhar Kairo. Kebetulan pementasan tarian tersebut gratis. Bagi orang yang ingin menyaksikan tarian itu, tinggal datang saja kesana. Waktunya, dimulai jam 8.30 pm, setiap malam minggu.

Yang menarik bagi saya pada waktu itu, dimana penontonnya bukan hanya orang-orang islam saja. Tetapi banyak turis-turis yang datang dari mancanegara untuk menyaksikan al-Tannoura Traditional Troup. Di antaranya, ada dari Italia, Spanyol, Yunani, China, dan negara yang lainnya.

Saya pikir, ketika sekarang sedang marak-maraknya perselisahan tentang peradaban, antara islam dan Barat. Maka, salah satu solusi penting untuk mengenalkan budaya tarian sufi kepada mereka. Karena dalam tarian itu, mengandung unsur kesufistikan dan sekaligus hiburan. Dimana, orang tidak melihat lagi unsur diskriminatip dalam tarian tersebut. Yang ada, malah hiburan yang mereka dapatkan. Walaupun, dalam isi bait-bait syairnya berisikan pengagungan terhadap Sang Maha Kuasa.

Namun, mereka hanya bisa melihat unsur hiburan dalam tarian itu. Tetapi, pada dasarnya mereka bisa menikmatinya dengan baik. Ini sisi positipnya, untuk menggambarkan begitu damai dan indahnya islam bagi mereka.

Jauh, paham atau tidak mereka tentang makna bait-bait syair yang dilantunkan. Tetapi, toh mereka bisa merasakan dan menikmatinya dengan khusu’. Tanpa bergeming sedikit pun, dari tempat duduknya. Mereka terus menyaksikan tarian itu hingga selesai.

Apa yang menjadikan mereka betah? Karena disana tidak lagi ada sekat. Apakah ia seorang muslim, atau non muslim. Apakah ia seorang turis, atau non turis. Tapi yang mereka rasakan pada waktu itu, hanyalah hiburan. Sebuah seni pementasan yang menggambarkan sebuah kedamaian dan kecintaan yang maha luhur.

Untuk bisa bersatunya seorang manusia lemah, dengan Sang Kekasih yang Maha Tinggi. Semua, penonton pada waktu itu bisa merasakannya. Dengan adanya getaran musik yang dibarengi tarian, sekaligus lantuntan bait-bait syair. Bisa menggetarkan hati yang mendengar dan melihatnya. Betapa tidak, suara pelantun bait-bait syair yang menyebutkan nama Allah, begitu khusu’nya. Hingga penontonpun terbuai dengan lantunan tersebut.

Tarian sufi bisa menjadikan solusi untuk sebuah kedamaian. Menerangkan ke Barat, bahwa islam dengan peradaban dan seninya bisa dinikmati dengan penuh ketenangan. Tidak harus dihantui perasaan takut, dan mengerikan sekeliling islam. Karena seni bisa dinikmati oleh semua kalangan. Tidak hanya khusus golongan-golongan tertentu.

Dengan demikian, perdamaian bisa diciptakan dengan baik. Lewat budaya tarian-tarian sufi. Di mana mereka tidak melihat lagi, peradaban islam yang mengerikan. Tetapi, mereka tertarik dengan peradaban islam yang kaya dengan seni budaya.

Semoga, tarian sufi bisa membangkitkan peradaban islam. Yang penuh damai, penuh kecintaan, penuh persahabatan, dan penuh kasih sayang. Karena memang, pendahulunya mengajarkan seni itu untuk ilustrasi kasih sayang dan cinta. Terhadap Sang Pencipta yang Maha Tinggi. Wallahu’alam.


[*] Mahasiswa al-Azhar Kairo Pecinta Seni Budaya.

Monday, May 3, 2010

KALAU SAJA MANUSIA BISA MEMINTA…!!!

KALAU SAJA MANUSIA BISA MEMINTA…!!!

Di sore hari, kebetulan saya di kamar kosan mempunyai sebuah Aquarium. Yah, lumayan cantik dan indah. Walaupun, tidak seindah mentari yang menyinari bumi disore itu. Hmmm, saya perhatikan ikan yang ada dalam Aquarium itu dengan seksama. Asyik ! adem rasanya hati ini melihat ikan. Ia hidup tanpa rasa beban, dan selalu gembira. Ia lari kesana-kemari dengan riangnya.

Seketika, terlintas dalam fikiran. Lalu, saya berkata pada diri sendiri, sambil memperhatikan ikan satu persatu. Ada yang lari ke kanan, ada yang lari ke atas, ada juga yang kejar-kejaran sama temannya. Dengan riangnya ikan itu bermain tanpa rasa bosan sekalipun. Bagaikan pasangan kekasih yang sedang di mabuk cinta.

Kemudian, saya bergumam sendiri. Apa ikan itu, merasa bosan, merasa jenuh, merasa bt, merasa stres tidak yah. Seperti, kebanyakan manusia. Jawabannya, saya sendiri pun tidak tahu. Munkin karena keterbatasan saya sebagai manusia yang tidak mengerti bahasa hewan yang bernama ikan.

Tetapi, yang menjadikan saya kagum terhadap ikan tersebut, mereka dengan riang dan gembiranya tanpa beban ikan itu hidup di dalam air yang berada dalam Aquarium. Saya perhatikan mereka dengan cermat. Ah, bahagia sekali ikan itu.

Jadinya, saya seperti orang gila sendiri ( upss, tidak donk, intermezo). Kemudian, saya berkata kepada ikan itu, tentunya dengan bahasa-bahasa saya sendiri donk.....hehe, mereka paham atau tidak. Yang penting saya sendiri paham.

Begini, saya berkata pada ikan, “alangkah bahagianya yah! engkau ikan hidup, engkau hidup tanpa beban, tanpa banyak keinginan, dan tanpa banyak masalah yang sering manusia hadapi”. Seperti, saya ini. Tetapi, engkau selalu hidup bahagia”.

Ikan pun, membisu seribu bahasa tidak menjawab perkataan saya. Hmmm, yah! memang ikan tidak bisa bicara. Coba, kalau ikan bisa ngomong, pasti mereka tak pernah bohong. Mereka hanya melihat saya dengan matanya tanpa berkedip sedikitpun. Kalau pun mereka berkedip, waaaaah ! saya yang jadi ketakutan sendiri. Pastinya, saya sudah ngacir sambil menggunakan jurus langkah seribu. Kalau perempuan cantik yang ngedipin sih, tidak tau yah! Hmmm, Ini ikan yang ngedipin matanya, aneh kali,...heheh.

Sebenarnya, tidak ada hubungannya ikan dengan tulisan ini. Hanya, saya suka makan ikan. Habisnya, ikan enak sih. Apalagi, ikan makanan yang bergizi. Ah, jangan tanya masalah pergizian saya kurang paham. Lagian, saya bukan dokter ikan yang paham tentang permasalahan ikan dilihat dari segi kesehatan. Ataupun, dari segi yang lainnya. Tahunya, saya ikan adalah makanan yang enak dan bergiji, itu saja.

Begini, ikan juga sama-sama makhluk ciptaan Tuhan seperti manusia. Tidak ada bedanya dengan manusia. Apalagi, kalau kita lihat dalam segi ilmu Mantiq (logika) kita sama ikan, adalah sama-sama hewan. Hanya, bedanya kalau manusia adalah hewan yang berakal, kalau ikan hewan yang tidak berakal.

Jadi, intinya kita sama juga donk dengan ikan dan makhluk yang lainnya, sama-sama hewan. Nah, lho kita disamakan dengan ikan atau hewan yang lainnya. Anda jangan salah paham dan marah dulu sama saya yah. Tunggu dulu, kemarahan anda sebentar. Kata orang engga baik lho suka cepat marah. Jadi, bedanya apa? Ah, sebenarnya kita dalam segi bentuk dan rupa saja sudah beda dengan ikan. Terus, yang dimaksud saya agar kita beda dengan ikan, apanya?

Nah, itu tadi kita makhluk Tuhan yang telah diberikan kelebihan akal untuk berfikir. Beda dengan makhluk-makhluk yang lainnya. Kita bisa jadi lebih mulia dari malaikat. Apabila, kita bisa menggunakan akal dengan baik. Dan kita juga bisa jadi lebih rendah daripada Syaitan dimata Tuhan. Apabila, kita menggunakan akal yang telah diberikan-Nya tidak baik.

Karena akal membedakan manusia dengan makhluk yang lainnya. Dengan akal, manusia bisa memilih, berfikir, bertindak, dan menjalankan segala apa yang telah di perintahkan Tuhan kepada-Nya. Dengan akal bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk.

Begitu juga, kita dengan hewan yang namanya ikan. Nasib kita akan sama seperti ikan, kalau kita tidak bisa menggunakan kelebihan kita dengan baik. Bahkan, bisa jadi ikan akan lebih mulia daripada manusia di sisi Tuhan. sebagaimana Tuhan sendiri mengatakana “bahkan mereka akan lebih sesat daripada hewan”. Jika manusia tidak bisa menggunakan kelebihan akalnya dengan baik.

Wah, sedih sekali yah hidup kita. Ternyata, kita akan lebih rendah nilannya daripada ikan. Kalau segala kelebihan tidak digunakan dengan baik. Ikan sih masih enak dagingnya, dan masih bisa di konsumsi oleh manusia. Tapi manusia itu sendir? Aduh, tidak kebayang. Waktu hidup aja, udah tidak berguna, gimana matinya yah. Lagian, daging manusia udah tidak enak. Kecuali kanibal kali yang suka daging manusia.

Ah, kalau saja manusia bisa meminta. Saya akan meminta untuk dilahirkan kedunia ini menjadi ikan saja. Biar hidup ini, tidak mempunyai beban, tidak mempunyai tanggungjawab, tidak akan ditanya nanti di akhirat. Bebas dari segala pertanyaan dan tanggungjawab. Tapi, tidak bisa! Saya telah dilahirkan kedunia ini menjadi manusia.

Mmm, persis keinginan saya ini seperti orang yang menyekutukan Tuhan. ketika mereka meninggal dunia, tidak percaya adanya kehidupan lagi setelah dunia. Dan mereka tidak percaya dengan apa yang digambarkan Al-Qur’an. Kemudian setelah mereka meninggal dunia, ternyata semua yang diceritakan al-Qur’an itu benar.

Lalu, mereka berkata pada Tuhan. “wahai Tuhanku! kembalikan lagi aku kedunia, aku berjanji akan beriman kepada-Mu. Sekarang aku benar-benar percaya, dan menyesali atas segala perbuatanku waktu di dunia”. Kemudian Tuhan menjawab, “kemarin-kemarin kemana aja, kenapa anda baru menyadari sekarang. Sudah terlambat, sekarang tidak ada kata maaf bagimu. Coba, kalau Tuhan sudah berkata begitu. Sedih banget, sengsara hidup ini. Mau minta tolong sama siapa? Sedangkan ikan hidupnya bahagia bertemu Tuhannya.

Nasi telah menjadi bubur tidak bisa dirubah menjadi nasi kembali. Itulah hidup. Jangan mengatakan menyesal kalau sudah terjadi. Tapi, bagaimana penyesalan itu tidak terjadi. Kita diberikan akal untuk berfikir, yang membedakan kita dengan ikan dan makhluk yang lainnya. Bagaimana menggunakannya pemberian itu dengan baik. Agar hidup ini bermakna dan berarti. Sebagaimana yang Tuhan harapkan.

Bagaimana kita bisa mengisi kehidupan ini dengan makna dan arti. Bisa selalu bersyukur dengan apa yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Bisa menggunakan akal dengan baik, sesuai dengan tuntutan Tuhan. Wallahu’alam.

Madinat Nasr, 3/5/2010

Ajidin.

Friday, April 30, 2010

Pengorbanan Seorang Ibu Tanpa Batas.

Pengorbanan Seorang Ibu Tanpa Batas.

Hari kamis, aduh rasanya males sekali untuk keluar rumah. Sebenarnya sih pengen jalan-jalan untuk mencari udara segar. Untuk menghilangkan rasa penat dan bosan dirumah. Ah, saya paksakan saja tuk pergi jalan-jalan keluar. Akhirnya, saya sms temen untuk ngajak jalan-jalan bareng. Eh, kebeneran temen pun menyambut ajakan saya. Jadinya, jadi juga deh jalan-jalan.

Lalu, saya langkahkan kaki berjalan menuju “Mahattah” ( terminal bis) yang tidak jauh dari tempat kosan. Yah, kira-kira 200 meter dari tempat saya ngekos. Itung-itung jalan beneran, sebelum saya pikir tar juga bakalan naik bis. Temen yang telah saya sms pun telah menunggu di depan. Tidak banyak basa-basi, saya langsung menyalaminya. Ayo, berangkat. Habis itu jalan deh. Karena memang, temen saya bener-bener pengen jalan tidak mau naik mobil. Ia bilang, katanya kamu ngajak jalan-jalan, ayo kita jalan aja. Wah, inimah nyiksa,..hiks-hiks..padahal saya ngajak jalan kan bukan beneran jalan kaki, hehe...

Hmmmm, terpaksa. Akhirnya saya ngikutin juga jalan. Sambil menelusuri jalan yang di lalui, saya pun bercerita-cerita sama temen itu. Karena dijalan sangat rame dengan kendaraan yang lalulalang. Memang asyik juga, bener-bener jalan kaki. Jalan-jalan di keramaian kota memang sangat asyik dan menyenangkan. Apalagi jalannya rame-rame. Rasa lelah dan haus pun tak terasa. Karena dijalannya sambil ngobrol dan bercanda. Perjalanan jauhpun tak terasa, tau-tau sudah sampai saja ditempat tujuan.

Memang, tujuannya jalan ke daerah At Thaba. Yah, sampai juga di daerah itu. At Thaba adalah, daerah yang terletak di pusaran kota Kairo. Daerahnya, sangat ramai. Karena memang, pusat perdagangan disana. Jadi, tidak heran kalau daerah itu dipenuhi oleh orang-orang yang berbelanja disana. Munkin juga, orang-orang mau berdesak-desakan disana karena memang benar-benar mau belanja. Atau juga, mereka hanya ingin jalan-jalan tuk menghilangkan rasa jenuh dirumah, seperti yang saya lakukan bersama temen.

Ketika saya jalan ditengah keramaian orang, tiba-tiba saya melihat ibu tua yang sedang duduk di pinggiran jalan. Ibu tua itu, kelihatannya sangat sedih sekali. Dengan rasa penasaran saya hampiri ibu tua tersebut. Seraya mengucapkan salam. “Assalamuikum” lalu ibu tua itu menjawab. “Walaikumsalam warahmatullahiwabarakatuh’, dengan jawaban yang sempurna. Karena kita dianjurkan, ketika orang mengucapakan salam, maka jawablah dengan jawaban yang sempurna. Seperti, jawaban ibu tadi.

Dengan modal bahasa arab amiyah,(bahasa sehari hari yang digunakan orang Mesir, atau orang Arab lainnya) yang pas-pasan. Tapi, lumayan-lah ibu tua itu bisa mengerti dan paham perkataan saya, hmmmm. Kalau di alih bahasakan menjadi bahasa indonesia, kira-kira jadinya seperti ini. Lho kok, jadi bahasa indonesia nih, bukannya berbicara sama orang Mesir. Yah, daripada saya nulisnya salah, kan jadinya malu sama anda yang membaca ini. Lalu, anda mengetawain saya donk! Boong, hanya just kidding. Lanjut aja yah, daripada saya ngebahas soal bahasa, jadinya kapan ceritanya. Sabar, katanya kan orang sabar disayang Tuhan.

“Ibu! Apa kabar? Sambil melirik kepada saya ibu itu menjawab. Alhamdulillah baik yabni, (Nak). Lalu, ibu tua itu malik nanya, darimana kamu nak? Owh, saya dari indonesia bu. Kemudian ibu tua tadi nanya lagi. Kamu lagi ngapain nak disini? Saya lagi jalan-jalan aja bu. Dan kebetulan saya lewat kesini. Melihat ibu sepertinya lagi bersedih. Maka, saya penasaran ingin bertanya kepada ibu. Sebenarnya ada apa bu? Dengan penuh semangat ibu itu bercerita. Begini nak! Ibu mempunyai seorang anak satu-satunya, tapi anak ibu sudah hampir dua minggu tidak pulang kerumah. Ibu khawatir, takut anak ibu kenapa-kenapa?

Sambil duduk saya bertanya lagi kepada ibu tua itu. Memangnya, ibu dari mana? Saya dari Mansurah nak. Jauh juga ibu dari Mansurah ke at Thaba. Iya nak! Ibu udah cape, lelah, dan sampai sekarang ibu masih belum menemukan anak ibu yang hilang itu. Mansurah adalah nama tempat yang ada di Mesir. Sebuah propinsi yang jauh dari kota Kairo.

Memangnya, anak ibu kenapa? Begini nak, anak ibu tidak seperti anak-anak yang lainnya. Ia sakit (kurang normal). Jadi, ibu sangat khawatir sekali. Ia tidak tau apa-apa, untuk pulang pun dia tidak tahu. Munkin dia kesasar tidak tahu jalan pulang.

Kemudian saya bertanya kembali. Kenapa ibu tidak lapor polisi aja bu. Kalau ibu lapor polisi, pasti anak ibu cepat ditemukan. Sambil menangis ibu tua itu menjawab. Ibu telah lapor polisi, tapi sampai saat ini belum ada kabarnya. Ibu sudah putus asa nak. Ibu harus mencari kemana lagi.

Mendengar perkataan seorang ibu tadi. Lamunan Saya langsung menerang jauh kedepan. Saya jadi teringat pada ibu sendiri. Bagaimana, seorang ibu yang selalu memikirkan anaknya yang nan jauh disana. Munkin, ia selalu memikirkan anaknya setiap detik, setiap jam, setiap hari, bahkan setiap detik napasnya. Ia selalu memikirkannya, bagaimana kabar anakku yang nan jauh disana. Ia selalu memikirkannya, bagaimana anakku sehat-sehat saja di sembrang sana. Walaupun, belum tentu anak yang dipikirkannya memikirkan ibunya.

Tak terasa, air matapun mengalir membasahi pipi saya. Karena saking terharunya dengan perkataan seorang ibu tua tadi. Bagaimana, seorang ibu yang telah tua renta. Masih tetap berjuang untuk mencari anak yang dicintainya. Ia tidak kenal lelah dan cape untuk tetap mencari belahan jiwanya. Walaupun, ia sendiri tidak tau keberadaan anaknya itu. Tapi pengorbanannya tak terbatas waktu.

Seorang ibu yang selalu sayang dan cinta pada anaknya. Seorang ibu yang selalu berkorban demi masa depan anaknya. Seorang ibu yang selalu memikirkan, bagaimana anaknya bisa tumbuh besar dengan sehat dan bahagia.

Cerita di atas hanya sebagai gambaran, begitu sayangnya seorang ibu terhadap anaknya. Sampai-sampai Saya sendiri di sini tidak bisa lagi melanjutkan obrolan dengan ibu tua tadi. Karena saya sudah tidak kuat lagi untuk meneruskan pembicaraan dengan ibu itu. Pikiran saya langsung buntu secara tiba-tiba. Tidak kuat lagi untuk mendengarkan ibu itu bercerita. Saya hanya bisa berucap, semoga ibu bisa cepat menemukan anak ibu yang hilang. Semoga Allah bisa mempertemukan ibu dengan dia.

Pada waktu itu, saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolongnya. Saya hanya berdoa dalam hati. “Ya Allah, semoga Engkau bisa mempertemukan ibu ini dengan anaknya”. Itu yang terucap dalam doa saya. Kemudian, saya minta izin untuk pamitan padanya. Dengan rasa sedikit gembira ibu itu berkata; terimakasih nak! Telah menemani ibu. Semoga Allah memberkati hidupmu. Amin. Itu jawaban yang saya dapat ucapkan.

Seorang Ibu yang telah melahirkan dan membesarkan kita dengan penuh kasih sayang tanpa mengharapkan imbalan apapun. Seorang Ibu yang mampu memberikan waktunya 24 jam sehari bagi anak-anaknya, tidak ada perkataan bosan, tidak ada perkataan lelah ataupun tidak mungkin. Seorang Ibu yang selalu mendoakan dan mengingat anaknya tiap hari, tiap menit, bahkan di sepanjang hidupnya. Bukan hanya waktu tertentu saja. Kenapa kita baru bisa dan mau memberikan waktu, atapun hadiah kepada Ibu kita hanya pada waktu tertentu saja. Munkin hanya ketika kita sedang mengingatnya, atau sama sekali tidak. Sedangkan di hari-hari lainnya tidak pernah mengingatnya, boro-boro memberikan hadiah, untuk menelpon saja kita tidak punya waktu.

Kita akan bisa lebih membahagiakan Ibu kita apabila kita mau memberikan sedikit waktu kita untuknya, waktu nilainya ada jauh lebih besar daripada hadiah yang diberikan kepadanya. Kasih dan sayangnya tidak pernah akan terbalas oleh apa pun. Bagi yang masih jauh dari ibu, Kapan kita terakhir kali menelpon Ibu? Kapan terakhir kali kita mengajak Ibu ngobrol? kapan terakhir kali kita memberikan kecupan manis dengan ucapan terima kasih kepada Ibu kita? Dan kapankah kita terakhir kali berdoa untuk Ibu kita?

Berikanlah kasih sayang selama Ibu kita masih hidup, percuma kita memberikan hadiah ataupun tangisan apabila Ibu telah tiada. Hanyalah doa dah perhatian yang ibu harapkan. Ibu pengorbananmu yang besar, kasih dan sayangmu yang tulus, tak bisa anakmu balas dengan apa pun. Semoga ibu selalu hidup bahagian di dunia dan di akhirat. Amin.

Kairo, kamis 28/4/2010

Ajidin.

http://ajidpurwakarta.blogspot.com/.

Tuesday, April 27, 2010

Persahabatan

Persahabatan

Persahabatan, kata ini munkin sangat akrab ditelinga saya, atau juga ditelinga anda semua. Apalagi kalau anda teringat dengan sebuah judul lagu dari, Zigaz (Sahabat jadi cinta)”. Seperti potongan lagunya; “satu kata yang sulit terucap, hingga bathinku tersiksa, Tuhan tolong aku jelaskanlah perasaanku berubah jadi cinta, tak bisa hatiku menapikan cinta, karena cinta tersirat bukan tersurat”........., wooow ! sangat dalam kata-katanya, sehingga saya terinspirasi ingin menulis disini. Kata orang kapan, dan dimanapun anda kalau mendapatkan inspirasi untuk menulis maka tuliskankanlah, walaupun itu hanya sekadar curat-coret biasa saja. Maka dari itu, saya ingin mengawali tulisan tentang persahabatan dengan sebuah potongan lagu tersebut. Tidak aneh dan asing lagi kata-kata persahabatan itu sebenarnya, karena sudah banyak orang yang membahas, menulis, sampai mendiskusikannya. Apa sebenarnya arti persahabatan itu?. Saya juga tertarik ketika banyak teman-teman yang sering berbicara tentang arti sebuah persahabatan. Tapi yang menarik bagi saya dalam pembicaraan itu, ketika salah satu dari teman saya bertanya, kenapa yah! Kok, banyak sekali terjadi persahabatan menjadi cinta.......,nanti dulu bro..,munkin yang anda bicarakan semua tentang persahabatan antara lawan jenis, bukan persahabatan sesama jenis, bagaimana persahabatan sesama jenis menjadi cinta, uupps...., homo kalee...nanti dulu jangan anda terburu-buru negatif thingking tentang arti persahabatan sesama jenis menjadi cinta, atau homo. Dan jangan salah meng-artikan cinta antara sesama, dan disamakan dengan arti cinta terhadap lawan jenis. Karena saya, atau anda bukan kaum gay yang berada di belanda, Amsterdam yang eksistensinya dilegalkan.

Dengan melirik seraya tersenyum manis saya menjawab, ..(hmmmm, tersenyum manis padahal, memang manis hehe...), nah! kalau masalah yang satu ini, saya pun tidak tahu, tetapi sedikitnya saya akan menjawab sesuai dengan persepsi dan kemampuan saya sendiri, karena semua orang boleh punya paradigma yang berbeda-beda. Maybe, yang anda katakan persahabatan menjadi cinta antara lawan jenis. Hal tersebut sudah tidak asing lagi ditelinga saya, dan telinga anda pun. Karena kita sering mendengarnya. Bisa jadi, persahabatan antara lawan jenis menjadi cinta karena salah satu di antara mereka telah mengetahui karakternya masing-masing. Sebenarnya jalinan persahabatan boleh dilakukan oleh siapa saja yang mengaku sebagai makhluk sosial. Karena kita hidup tidak akan terlepas dari yang namanya persahabatan, apakah itu persahabtan dilakukan antara lawan jenis, atau bukan. Sebagai makhluk sosial dengan pastinya kita memerlukan orang lain, kita tidak munkin hidup dengan sendirinya dan tidak membutuhkan orang lain. Apakah orang lain itu, sebagai teman, sahabat, kakak, saudara, adik, orangtua, dan yang lainnya.

Dalam kehidupan kita sering membutuhkan orang lain, apakah orang lain itu sebagai sahabat, sebagai kakak, saudara, atau sebagai teman special kita. Bisa juga, teman atau sahabat tempat kita berbagi, tempat curhat, atau tempat kita mencurahkan kesedihan, atau kebahagian ketika kita sedang mengalaminya. Karena ketika kita sedang mengalami kesedihan, ingin kita mencurahkannya kepada seseorang yang bisa mendengar, memberikan ketenangan dalam jiwanya. Tidak menutup kemunkinan semua orang mempunyai pengalaman seperti itu, termasuk saya dan anda. Dengan proses seperti itu, munkin satu sama lain mengetahui karakter, serta watak masing-masing yang pada akhirnya menimbulkan rasa sayang, atau cinta yang tidak di sadari kapan datang, dan dari mana awalnya. Proses waktu itulah yang mengantarkannya ke arah sana. Dengan proses itu, orang tidak akan lagi melihat siapa sahabat, atau temannya yang sering diajak ngobrol, atau curhat mempunyai fisik jelek atau tidak. Akan tetapi perhatian dan dorongan, serta motivasi yang ia terima ketika sedang mengalami kesedihan, dan ia selalu ada ketika ia membutuhkannya. Itu-lah munkin persahabatan timbul menjadi sebuah kasih sayang. So, pastinya semua orang punya donk! Tempat yang anda percayai untuk bercurhat, bercerita, berbagi pengalaman, atau untuk berbagai cerita sedih dan duka. Apakah itu berbentuk teman, kakak, sahabat, atau orang tua, atau juga orang yang special di mata anda. Yang jelas teman kita selalu membuat kita bahagia ketika kita mendapatkan kesedihan, selalu memberikan motivasi ketika kita tidak lagi mempunyai semangat hidup, selalu memberikan solusi ketika kita mendapatkan masalah, dan selalu memberikan gairah hidup untuk selalu bangkit dalam keterpurukan. Satu sama lain, saling membagi dan memberi. Hmmm, saya tidak akan membahas panjang lebar disini, karena anda lebih tahu daripada saya. Akan tetapi saya akan menulis sebuh kisah yang mudah-mudahan memberikan manfaat bagi saya, dan anda.

Di ceritakan ada dua orang yang bersahabat dengan baik, lagi saling percaya diantara keduanya. Sebut saja, mereka adalah Ali dan Umar. Sebagaimana diceritakan keduanya juga sering berbisnis bareng, sehingga kalau pun mendapatkan keuntungan pastinya sama-sama, dan selalu dibagi rata tidak pilih kasih. Singkat cerita, setelah sekian tahun lamanya mereka bersahabat tidak pernah mengalami perselisihan dan permusuhan, kalaupun ada masih tetap bisa ditolerir oleh keduanya dengan baik. Pada suatu hari keduanya mengadakan rapat bersama untuk menyusun rancangan, dan menetapkan transaksi perdagangan besar. Maka setelah adanya pertimbangan, dan ketetapan rencana diantara keduanya dengan melihat-melihat kondisi perdagangan tersebut. Secara tiba-tiba Ali mengusulkan untuk menangguhkan transaksinya, sedangkan Umar mengusulkan agar mempercepat trasaksi sebelum kesempatan yang sangat berharga itu hilang. Umar pun bersisi keras dengan pendapatnya itu untuk mempercepat transaksi, dan tanpa mengindahkan pendapat sahabatnya. Bahkan ia lupa, bahwa diantara ia dan sahabatnya ada hubungan kasih sayang, dan persahabatan yang terjalian sekian lama. Singkat cerita antara dua sahabat tadi terjadi perang dingin yang mengakibatkan diantara keduanya renggang satu sama lainnya. Karena keduanya sama-sama egois tidak mau mengalah. Bahkan Umar pun sempat terlintas dalam pikirannya untuk mengakhiri tali persahabatannya dengan Ali yang telah terjalin begitu lama itu.

Ternyata yah, persahabatan yang telah terjalin begitu lama pun, bisa pudar dengan seketika. Karena akibat kesalahpahaman diantara keduanya. Sebagai manusia biasa saya katakan hal itu, wajar-wajar saja, karena kita hidup tidak munkin selamanya berjalan dengan mulus. So, pastinya ada bumbu-bumbu yang bisa mempererat, atau membubarkan tali persahabatan tadi, apakah dengan beda pendapat atau dengan yang lainnya, seperti yang terjadi antara Umar dan Ali. Yang paling penting bagaimana diantara keduanya bisa menyelesaikan masalahnya dengan baik.
Lanjut pada cerita diatas tadi, kemudian Umar pun pulang kerumahnya dalam keadaan penuh emosi. Akan tetapi ketika ia sampai dirumah, Umar menyadari dan ia berfikir lagi dengan kepala dingin tanpa emosi. Bahkan ia bisa berpikir dengan santai dan jernih. Dan pada akhirnya ia berkata pada dirinya sendiri; “sesungguhnya benar pendapat sahabat saya Ali, bagaimana saya harus marah dan benci, lagi memusuhi terhadap sahabat saya itu, bahkan saya telah menghancurkan tali persahabatan yang telah terjalin begitu lama”. Maka ketika Umar bangun dipagi hari, kemudian ia bergegas pergi kerumah sahabatnya Ali. Lalu ia berkata kepada sahabatnya dengan penuh rasa penyesalan. “Apakah anda tahu wahai Ali?, Sesungguhnya seorang muslim itu tidak halal baginya memusuhi saudaranya lebih daripada tiga hari. Dan aku sekarang telah datang kepada anda untuk mengadakan perdamaian sebelum waktu tiga hari itu tiba”.

Kemudian Ali menjawab seraya menebarkan senyuman manis diwajahnya; “saya tahu! demi Allah, sesungguhnya saya telah berniat hendak pergi kerumah anda, akan tetapi saya lebih mencintai anda yang pertama memulai perdamaian ini, karena sesungguhnya dua orang yang saling bermusuhan itu lebih baik bagi orang yang memulai pada saudaranya perdamaian, dan anda adalah lebih baik daripada saya”. Kemudian Umar berkata lagi; “Tidak sahabat, bahkan demi Allah! anda lebih baik daripada saya”. Lalu keduanya saling berangkulan dan bersalaman, dan selanjutnya mereka berdua duduk bersama sambil membahas tentang acara bisnisnya yang sempat tertinggal karena adanya kesalah pahaman. Akan tetapi sekarang keduanya saling memahami dan saling pengertian. Woow, indahnya apa yang telah dilakukan Ali dan Umar, mereka sama-sama berlomba untuk mendapatkan kebaikan.

Saya ketika menulis kisah tentang Ali dan Umar hanya bisa berkata, subhanallah, ternyata persahabatan yang di dasari dengan ikatan iman, dan ketakwaan yang kuat akan membuahkan kebahagian dan keindahan hidup. Saya, anda, dan kita semua pastinya mempunyai sahabat yang baik, atau kakak yang baik, atau orang tua yang baik, saudara yang baik, dan sahabat yang baik yang bisa memberi kepada anda, ataupun saya kebahagian. Apakah semua itu rekan bisnis, patner kerja, teman kuliah, teman special, teman curhat, teman berbagai pengalaman, dan yang lainnya. Semuanya tergantung kita mewarnainya, kalau kita mewarnainya dengan baik, insya Allah semuanya akan baik. Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Umar dan Ali dalam cerita diatas. Saya ingin seperti Ali, dan saya juga ingin seperti Umar yang keduanya sama-sama pengertian, saling memahami karena pondasi dasar keduanya adalah, keimanan dan ketakwaan yang kuat. Boleh umur terus berkurang, boleh waktu terus berubah, boleh keinginan selalu berbeda, boleh cita-cita selalu berbeda, boleh ide-ide selalu berbeda, boleh nyawa memisahkan antara keduanya, akan tetapi tali persahabatan akan tetap abadi. Apabila semuanya di dasari keimanan dan ketakwaan yang kuat. Maka semuanya akan baik, bahkan ikatan persahabatannya akan menyelamatkan keduanya. Apakah anda masih setuju sahabat jadi cinta, seperti yang digambarkan lagu diatas, atau kisah yang saya tulis. Hmmm, semua itu terserah anda bagaimana mewarnainya. Walluhu’alam.

Bawabah tiga - Cairo
9/4/2010
Ajidin

Friday, April 23, 2010

ANDAI SAJA AL-QUR’AN SEBUAH NOVEL

ANDAI SAJA AL-QUR’AN SEBUAH NOVEL

Di malam jum’at, jam dingding pun telah menunjukan larut malam. Betapa kagetnya saya ketika melihat waktu begitu cepat berjalan. Padahal, kebiasaan orang-orang Asia khususnya orang Indonesia pada malam jum’at, selalu ramai dengan bacaan-bacaan surat Yasin, dan bacaan surat-surat lain ada di dalam Al-Qur’an.

Tapi kebiasaan itu, sangat berbeda ketika berada di negara Arab. Karena memang, malam jum’at bagi orang-orang Arab adalah hari libur mereka. Jadi, kegiatan pengajian pun sangat jarang mereka lakukan. Bukan berarti tidak ada. Masih ada anak-anak muda, orang tua, dan anak-anak kecil yang ikut pengajian di mesjid, dan ditempat-tempat lain.

Ah, saya pikir sama saja. Di malam jum’at, atau di hari-hari yang lain. Kalau al-Qur’an selalu di baca setiap hari, akan memberikan ketenangan pada jiwa yang membacanya. Walaupun, dalam membaca al-Qur’an tidak tahu makna yang dikandung di dalamnya. Munkin, ada sebagian orang yang paham arti dan maksud yang terkadung di dalamnya. Tapi itu, sangat jarang. Kadang membaca al-Qur’annya saja susah, dan tidak bisa sama sekali. Ada juga, sama sekali tidak pernah menyentuh yang namanya al-Qur’an. Aneh! Kadang. Tapi itulah realita yang ada.

Ada orang yang bilang. Bagaimana memahami isi kandungan al-Qur’an. Kalau membacanya aja susah banget. Ada juga yang bilang, baca al-Qur’an itu mudah. Yah, itu bagi orang yang telah bisa membaca al-Qur’an. Malah yang hapalpun banyak juga.

Ada yang bisa baca al-Qur’an, belum tentu hapal maknanya. Ada juga, yang bisa baca dan hapal maknanya. Tapi belum tentu juga, mengamalkan isi yang terkandung di dalamnya. Rumit memang, permasalahan ini. Tapi bagi saya, walaupun belum hapal makna bacaan yang terkandung di dalamnya. Sedikitnya orang mau membaca al-Qur’an. Karena al-Qur’an akan memberikan mukjizat tertentu bagi orang yang membacanya. Bahkan, ia akan memberikan ketenangan, ketentraman, dan kelembutan pada jiwa yang membacanya.

Apalagi di saat sekarang ini. Orang yang bisa membacanya dengan istiqomah, itu udah menjadi kebanggaan yang sangat besar. Walaupun, belum bisa dibarengi dengan pemahaman, dan pengamalan isi kandungannya. Belum lagi, sulit dan malasnya membaca al-Qur’an.

Hal ini juga, saya rasakan sendiri. Beda ketika saya sedang membaca novel, cerpen, dan komik, serta bacaan-bacaan yang lain. Yang tidak membutuhkan pemikiran yang berat. Rasanya, enak membacanya. Karena isi di dalamnya bisa saya pahami dengan cepat, otakpun cepat untuk menerimanya. Tapi beda ketika sedang membaca al-Qur’an. Karena bentuk hurufnya bahasa Arab, jadinya, kalau tidak paham bahasa Arab dan tidak belajar membacanya sangat sulit membacanya. Apalagi untuk memahami makna yang terkandung di dalamnya.

Padahal, kalau kita bisa membaca al-Qur’an. Apalagi, bisa memahami isi kandungan dan maknanya. Lebih-lebih bisa mengamalkannya dengan penuh ke ikhlasan. Maka kita akan terpesona dengan al-Qur’an. Sama seperti, kita ketika melihat perempuan yang cantik menawan. Bagaimana rasanya kita melihat itu, oh! indah. Rasa-rasanya mata ini, tidak mau mengalihkan pandangan walau sekejap. Ingin terus menatap, bahkan tidak ingin meninggalkannya walau sedetik pun.

Karena al-Qur’an di dalamnya mengandung berbagai macam makna. Dan makna itu, tidak akan habis digali oleh manusia. Sampai ia matipun al-Qur’an akan tetap menjadi penerang bagi yang membaca, memahami, dan mengamalkannya. Dari mulai tata bahasanya, grametikalnya, surat-suratnya, kisah-kisahnya, susunan-susunan perhurufnya. Dan berbagaimacam yang terkandung dalam al-Qur’an sangat unik dan indah. Hanya manusia yang dapat membaca, memahami, dan mengamalkan al-Qur’an yang akan mengerti dan merasakan. Begitu indah, dan mempesonanya al-Qur’an.

Bagaimana dengan orang yang tidak bisa membaca al-Qur’an. Oh! Jangankan untuk mengatakan al-Qur’an itu, indah mempesona, dan unik. Kenal saja tidak. Bagaimana akan mengatakan itu. Persis seperti orang yang buta mengatakan. Oh, gunung itu indah sekali. Padahal ia sendiri belum pernah melihat gunung, bagaimana ia bisa mengatakan gunung itu indah. Kalau ia belum pernah melihat, memandanginya, dan menyentuhnya. Munkin karena ia buta. Jadinya, wajar saja. Tapi kalau ia tidak buta. Bagaimana itu bisa terjadi?.

Jadi orang yang tidak pernah mengenal, tidak pernah membaca, tidak pernah ingin belajar, tidak pernah ingin mengamalkan al-Qur’an. So, persisnya seperti orang buta yang mengatakan gunung itu indah. Atau seperti orang yang melihat, tapi tidak mau untuk mengenal al-Qur’an.

Tapi jangan bersedih hati. Tuhan tetap akan memberikan pahala bagi orang yang mendengarnya, walaupun ia tidak bisa membacanya.

Ah, alangkah indahnya. Apabila al-Qur’an selalu diburu ingin membacanya. Penasaran kalau belum membacanya, rindu kalau belum menemukannya. Gelisah apabila tidak mendapatkannya. Terpesona kalau sudah membacanya. Dan merasa sakit hati kalau meningalkannya. Oh, hidup di dunia ini serasa luas, lega, bahagia, bahkan serasa tidak pernah mempunyai masalah sedikit pun. Kalau sudah menyentuh, membaca, memahami, dan mengamalkan-mu, wahai al-Qur’an.

Rasanya ingin cepat bertemu dengan penulis, atau pengarangnya. Agar bisa minta tanda tangan, bisa berbicara dengannya. Bisa photo bareng, bisa menanyakan bagaimana bisa menuliskan cerita itu dengan baik, dan indah. Yang membuat orang terkagum-kagum, sekaligus membuat orang selalu memuji-mujinya.

Oh, sangat dahsyat rasanya. Kalau kita bisa membaca, memahami, dan mengamalkan isi kandungan al-Qur’an. Seperti novel, mudah untuk dibaca, dipahami, dihayati, sekaligus diamalkan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya.

Tapi menyedihkan, semua orang tidak memburu untuk membacanya. Tidak penasaran kalau tidak membacanya. Tidak rindu kalau tidak menemukannya. Andai saja al-Qur’an itu, sebuah novel pasti banyak orang yang mencarinya. Banyak orang yang merindukan ingin bertemu dengan penulisnya. Banyak orang yang selalu ingin berdialog dengannya. Kalau saja, semua orang tau, siapa pengarang al-Qur’an. Maka mereka akan selalu merindukannya. Mereka selalu penasaran ingin terus berdialog dengannya. Mereka selalu ingin memilikinya. Mereka selalu memelihara dan menjaganya. Mereka selalu ingin belajar untuk memahaminya. Mereka selalu ingin mengamalkannya.

Bahkan, pengarang al-Qur’an telah memberikan jaminan seratus persen. Bagi mereka yang selalu membacanya, memahaminya, dan mengamalkan isi kandungan di dalamnya. Hidupnya, akan penuh dengan kebahagian dimasa sekarang dan di masa yang akan datang. Yaitu, di dunia dan akhirat. Tapi beda dengan penulis novel, ia pun tidak bisa memberikan jaminan seperti yang diberikan pengarang al-Qur’an.

Akan tetapi kenapa, saya sendiri senang membaca novel daripada al-Qur’an. Rela berjam-jam duduk hanya untuk menamatkan cerita yang bikin penasaran. Tapi kenapa ketika membaca al-Qur’an pantant ini, rasanya pegal untuk melanjutkan bacaannya. Itulah al-Qur’an, ditunjukan bagi orang-orang yang mendambakan kehidupan yang abadi.

Namun, al-Qur’an tetaplah al-Qur’an yang selalu memberikan ketenangan, ketentraman, dan kebahagian bagi orang yang membacanya. Al-Qur’an bukanlah novel ayat-ayat cinta, al-Qur’an bukanlah novel laskar pelangi, atau novel-novel yang lagi booming dan fenomenal saat ini. Andai saja al-Qur’an sebuah novel, pasti engkau banyak yang mencarinya. Wallahu’alam.


Salam hangat

Ajidin..

Malam jum’at dikeramaian kota Kairo

23/4/2010

Bagaimana Menemukan Tuhan?

Bagaimana Menemukan Tuhan?

Ketika anda atau saya sedang mengalami fenomena yang sangat menyedihkan, atau fenomena yang menyakitkan sekalipun. Disitulah saya dan anda termasuk manusia semuanya akan ingat kepada Tuhannya, karena betapa banyak kejadian-kejadian yang mengajarkan saya dan anda termasuk manusia untuk berbuat seperti itu. Dimana sebahagian manusia, bahkan hampir seluruh manusia, sangat gampang untuk menemukan Tuhannya dikala ia sedang mengalami kegundahan, atau kesedihan yang menimpanya.

Hal itu, bukan fenomena yang aneh lagi ditelinga anda atau saya, bahkan sudah sering orang mengalami hal tersebut. Di saat manusia sedang mengalami kebahagian, ketenangan, kecukupan, dan kegembiraan sangatlah sulit bagi saya atau anda untuk menemukan keberadaan Tuhan, padahal sesungguhnya Tuhan selalu ada dan dekat. Hanya saja saya atau anda kurang menyadarinya, atau pura-pura tidak sadar untuk melupakan keberadaan Tuhan.

Ketika Tuhan sedang memberikan ujian kepada saya, atau anda (hamba-Nya) dengan kebahagian, banyaknya harta, kesehatan, ketenangan, kegembiraan dan sebagainya. Dikala itu pula saya atau anda (manusia) terlena dengan semua itu. Jarang saya atau anda (manusia) menyadari, bahwa semua itu hanya sebatas ujian yang diberikan kepada saya, atau anda agar selalu mengingat kepada-Nya. Justru apa sebaliknya yang terjadi ketika Tuhan memberikan semua itu, saya ataupun anda mengingkarinya, lupa kepada-Nya, atau saya dan anda pura-pura lupa untuk mengingatnya.

Saya dan anda pun lupa untuk mengucapkan rasa syukur atas segala nikmat yang telah diberikannya. Dan sangatlah sulit untuk mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberikan semua itu, bahkan untuk datang bercengkrama pun jauh untuk dilakukannya.

Tapi, kenapa?, ketika saya dan anda mengalami kesedihan, musibah, stres, dan berbagaimacan cobaan. Seolah-olah Tuhan sangatlah dekat dengan saya dan anda. Bahkan tanpa rasa malu sedikitpun saya dan anda datang kepada-Nya dengan mengadukan dan mencurhatkan berbagaimacam masalah yang sedang dialaminya. Terkadang saya dan anda berburuk sangka kepada-Nya, dengan mengatakan, kenapa Tuhan tidak berpihak kepada saya dan anda, kenapa Tuhan tidak adil kepada saya dan anda, kenapa Tuhan tidak sayang dan cinta kepada saya dan anda.

Dengan berbagai ragam pertanyaan selalu diajukan kepada Tuhan, kenapa dan kenapa? Bahkan seribu kata, atau bahkan sejuta kata kenapa diajukan kepada Tuhan. Dalam keadaan sedih dan stres, ataupun bingung, seolah-olah saya dan anda hidup sendirian, dan saya dan anda yang hanya hidup yang selalu bingung, stres, miskin, and kenapa orang lain tidak!. Itulah sebahagian sifat kemanusiaa saya dan anda, kalau sedang mendapatkan segala macan masalah, ujung-ujungnya selalu Tuhan yang selalu disalahkan, bahkan saya dan anda pun tidak menyalahkan dirinya yang selalu lupa ketika mendapatkan kebahagian dan kesenangan.

Tuhan selalu memberikan cobaan kepada manusia, termasuk saya dan anda. Apakah kita kuat dengan semua cobaan itu, atau tidak!. Tapi sesungguhnya kebanyakan manusia, termasuk saya dan anda kadang berhasil menjalani cobaan kemiskinan, kebingungan dan sebagainya. Akan tetapi betapa banyak manusia, termasuk saya dan anda yang gagal ketika diberikan cobaan dengan kesuksesan, harta yang banyak, kebahagian dan ketenangan. Tuhan selalu memberikan cobaan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, tidak lantas begitu saja, manusia termasuk saya dan anda mengaku berimana dibiarkan tidak diberi ujian.

Sebagaimana nabi Saw. Telah menceritakan bahwa sesungguhnya, Tuhan berfirman dalam hadits Qudsi-Nya; “Barangsiapa dia yang tidak ridha dengan takdir-Ku, dan tidak sabar atas ujian-Ku, maka pilih atau carilah Tuhan selain daripada-Ku”. Hal ini, telah mengindikasikan kepada siapa saja, termasuk saya dan anda yang mengatakan dirinya beriman kepada Tuhan, dan mengakui bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Dia, dan mengakui bahwa sesungguhnya nabi Muhammad adalah utusan-Nya, maka Dia menguji kepada saya dan anda, serta seluruh manusia yang beriman untuk ridha dan sabar atas segala ujiannya.

Bahkan Dia mengatakan kepada semuanya, kalau seandainya saya dan anda, atau umat manusia seluruhnya tidak sanggup untuk sabar atas segala ujiannya dan bersyukur atas segala nikmat yang diberikannya, maka carilah Tuhan selain diri-Nya. Jika orang tua, teman, sahabat, pemerintah atau siapa saja yang mengusir saya dan anda, masih ada harapan mencari tempat lain untuk bisa dikujungi dan ditempati, akan tetapi kalau Tuhan yang mengusir saya dan anda akan kemana kita pergi dan memohon pertolongan, serta perlindungan.

Dengan demikian, marilah kita (saya dan anda) bersama-sama untuk menemukan Tuhan dikala kita sedang dalam keadaan tenang, bahagia, dan bahkan dalam keadaan kita banyak harta yang bisa di dermakan dijalan yang baik untuk bisa membantu orang-orang yang tidak mampuh. Jangan saja, kita (saya dan anda) bisa menemukan Tuhan dikala kita sedang bingung tidak punya uang untuk makan, sedang stres dikala diputuskan pacar, atau stres ketika kita mencari pekerjaan tidak dapat-dapat, atau sedih yang terlalu amat dalam.

Hal ini pula diceritakan oleh Sayyidah Aisyah ra. Ketika beliau bertanya kepada Rasulullah Saw; “Wahai Rasulullah, kapan manusia akan mengetahui tentang Tuhannya?, lalu beliau menjawab; “Apabila dia mengetahui tentang dirinya”. Dengan demikian, apabila manusia termasuk saya dan anda, mengetahui tentang fungsi dirinya, untuk apa Tuhan menciptakan dirinya, lalu apa darimana dan akan kemana dia (termasuk saya dan anda) akan pergi dan kembali. Maka disanalah manusia, termasuk saya dan anda akan mengetahui, menemukan, dan sangatlah membutuhkan kepada-Nya, serta mengakui keberadaan Tuhan dengan sebenar-benarnya.

Dan tidak hanya menemukan Tuhan dikala sedang bingung saja! Tapi munkin itulah jalan yang sangat mudah ketika kita ingin menemukan Tuhan, dikala sedang bingung, karena terasa disaat kita bingung Tuhan terasa dekat dihati. Semoga anda dan saya selalu mendapatkan karunia-Nya, amin. Wallahu’alam

Nasr City, Cairo,19-3-2010

Ajid

Keinginannya hanya Karena Allah....!!

Keinginannya hanya Karena Allah....!!

Ketika saya atau anda masih kecil, atau ketika masih sekolah dasar, sering kita ditanya oleh guru-guru, atau orang tua kita, kalian ingin menjadi apa nak setelah besar nanti. Begitu pula guru kita disekolah selalu bertanya kepada anak didiknya. Anak-anak yang ibu cintai, kalian semua setelah besar nanti ingin menjadi apa. Diantara kumpulan anak-anak itu, ada yang menjawab, saya setelah besar nanti ingin menjadi dokter bu! Ada juga yang menjawab, saya ingin menjadi presiden bu! Beranekaragam jawaban anak-anak pada waktu itu. Hampir semua anak-anak mempunyai keinginan dan cita-cita yang berbeda-beda.

Bahkan saya atau anda, kalau ditanya apakah anda ingin menjadi apa?, pasti jawabannya akan bermacam-macam tergantung individu masing-masing, dan keinginan dan cita-citanya. Indah sekali ketika Tuhan menciptakan manusia dengan beranekaragam bentuk, keinginan, dan cita-cita sekalipun. Kemudian Dia memberikan akal kepada manusia tersebut untuk berfikir, dan berusaha sekuat tenaga untuk merealisasikan keinginan dan cita-citanya itu. Apakah cita-cita dan keinginanannya itu selalu disandarkan kepada-Nya, atau mereka menyandarkan segala keinginan dan cita-cita kepada yang lain.

Saya disini akan mengutip sebuah kisah, dan mudah-mudahan kisah ini akan memberikan sebuah pelajaran yang berharga bagi kita semua. Kisah ini saya kutip dari sebuah buku yang bertuliskan bahasa arab yang berjudul “Asma Allah al-Husna”, yang ditulis oleh Samir Halabi, kisah ini akan mengajarkan kepada kita, bagaimana suatu keinginan yang dilandaskan kepada Tuhan akan selalu memperoleh kemenangan. Akan tetapi suatu keinginan dan cita-cita yang selalu disandarkan kepada hawa nafsu, ataupun disandarkan kepada selain Tuhan akan selalu mendapatkan kekalahan. Sebagaimana yang diceritakan dalam kisah tersebut yang akan saya ceritakan disini.

Pada zaman dahulu diceritakan ada seorang laki-laki sholeh yang rajin beribadah kepada Tuhannya. Sedangkan pada zaman itu kaum-kaumnya tidak menyembah Tuhan, bahkan mereka menjadikan sebuah pohon sebagai sesembahannya mereka selain daripada Tuhan. Diceritakan seorang laki-laki yang rajin beribadah itu hendak memberikan nasehat, dan peringatan kepada kaum-kaumnya, akan tetapi apa yang terjadi pada seorang tukang ibdah tadi. Ia hanya memperoleh ejekan dan olokan dari kaumnya.

Pada suatu hari seorang laki-laki tersebut memutuskan dan bertekad bulat untuk menebang sebuah pohon yang dijadikan sesembahan oleh kaum-kaumnya itu. Lalu ia berangkat dengan menunggangi Himar (karena pada waktu itu belum ada Mersedez Benz, jadinya Himar Benz, kalau sudah ada bisa jadi dia naik Benz kalee,...hehe...selingan sedikit) dengan membawa kampak untuk menebang pohon itu. Akan tetapi ditengah-tengah perjalanan menuju sebuah pohon tersebut, ia bertemu dengan Iblis yang menjelma menjadi bentuk seorang laki-laki. Karena dalam satu riwayat dikatakan, bahwasannya Iblis bisa mancala putra-mancala putri, ia bisa merubah bentuk sesuai dengan apa yang ia kehendaki. Dengan demikian, terjadilah dialog antara Iblis dengan seorang laki-laki tukang ibadah tadi yang hendak menebang sebuah pohon tersebut.

Iblis; “Mau berangkat kemana broo, (wah Iblisnya gaul nih, hmmm), kok tergesa-gesa begitu?”.

Tukang Ibadah; “iya nih broo!, (wah ternyata tukang ibadah pun tidak mau kalah sama Iblis, gaul juga, hehe,...) saya hendak berangkat kesuatu tempat untuk menebang (memotong) sebuah pohon yang dijadikan sesembahan oleh kaum-kaum, selain daripada Tuhan”. Dilanjut dialognya yah,.

Iblis; “Jangan pergi dan jangan anda lakukan.......kalau anda tidak pergi, maka saya akan memberikan satu kantong uang pada anda, dan saya akan menyimpannya dibawah bandal anda pada setiap malam”.

Siapa sih yang tidak terpikat dan tergiur dengan tawaran satu kantong uang yang diberikan setiap hari, apalagi tanpa usaha yang berat. Pasti hampir semua orang yang kurang keimanannya akan tergiur dengan tawaran yang diberikan Iblis tadi. Tukang ibadah sekalipun, tergiur dengan tawaran Iblis itu sehingga ia tidak jadi untuk menebang sebuah pohon yang dijadikan sesembahan para kaumnya tersebut. Karena ketertipuan dan keterpedayaan dengan rayuan gombal Iblis itu, kemudian seorang laki-laki tukang ibadah tidak jadi pergi untuk menebang pohon tersebut. Dan akhirnya ia pulang lagi kerumah, maka ketika ia terbangun di pagi hari, seraya menjulurkan tangannya kebawah bantal ternyata benar telah ada sekantung uang. Setelah itu seorang laki-laki tersebut menjadi kebiasaan menjulurkan tangannya kebawah bantal untuk mengambil sekantung uang. Akan tetapi pada hari berikutnya ia tidak mendapatkan sekantung uang lagi seperti biasanya. Dengan rasa kesal dan marah, lalu seorang laki-laki tukang ibadah tadi bergegas pergi menuju pohon tersebut untuk menebangnya. Seperti kejadian yang pertama ditengah perjalanan pun ia bertemu dengan Iblis lagi yang menjelma menjadi sosok manusia lagi.

Iblis: “ hai broo, how are u? (wah Iblis ternyata keren banget yah, hmmm) apa lagi yang ingin anda lakukan sekarang?”.

Tukang ibadah; “i’m fine and you?, (tidak mau kalau nih tukang ibadah....) saya hendak menebang pohon itu”.

Iblis; “owh, i’m good, (seraya melanjutkan pembicaraannya Iblis mejawab) Apabila anda sekarang hendak menebang pohon itu, maka saya akan mematahkan punggung anda, ia berkata dengan nada mengancam!”.

Tukang ibadah; “woow, dengan heran mendengar perkataan seorang Iblis itu, ia berkata; bukankah anda sebelumnya telah takut kepada saya”. Lalu dengan bangganya Iblis menjawab perkataan tukang ibadah tadi; “Sesungguhnya anda waktu pertama hendak menebang pohon itu tujuannya hanya karena Allah, walaupun anda masih tergoda. Adapun kali ini sesungguhnya anda hendak menebang pohon hanya rakus (tamak) karena uang, dengan pasti anda sekarang akan kalah dan tidak akan menang”.

Dalam kisah dan dialog antara Iblis dengan tukang Ibadah diatas menggambarkan, bagaimana seseorang tadi dengan niatnya yang baik untuk menebang sebuah pohon yang dijadikan sesembahan oleh para kaumnya pada waktu itu, walapun di tengah perjalanannya ia gagal karena tergiur oleh tawaran Iblis yang menggeiurkan. Dan pada akhirnya ia pun jatuh kedalamnya. Akan tetapi perjalanan pertama yang dilakukan oleh seorang Tukang ibadah dilandaskan pada niat yang tulus karena Tuhannya, tetapi kemudian niat yang kedua telah di tumpangi oleh rasa tamak (rakus) terhadap harta yang selalu di dapatnya dengan mudah. Maka dengan sendirinya, ia telah dikalahkan oleh Iblis dengan begitu mudahnya.

Dengan demikian, segala keinginan dan cita-cita yang selalu ditumpangi bukan karena Tuhan akan selalu gagal. Bahkan ketika ia menangpun akan selalu ingin berbuat hal yang lain, apalagi kalau segala sesuatunya diniatkan bukan karena Tuhannya, maka segalanya akan mudah terkalahkan. Bagaimana ketika kita ingin mencapai tujuan itu mengalami kegagalan, maka yang cepat disalahkan adalah, kenapa Tuhan tidak selalu berpihak baik kepada saya, atau anda.

Kisah diatas tadi mengajarkan kepada kita, bagaimana kita selalu bersikap dalam melakukan sesuatu itu hanya berlandaskan kepada Tuhan, bukan berlandaskan pada tujuan-tujuan tertentu. Karena segala sesuatu yang telah kita kerjakan hanya karena Tuhan, pasti dengan sendirinya akan mempunyai dampak yang baik terhadap segala yang kita kerjakan itu.

Sebagaimana sebuah proses untuk mencapai keinginan itu mengalami berbagaimacam halangan, dan rintangan. Di situlah indahnya segala proses untuk mencapai sebuah kemenangan dalam kehidupan. Bukan keinginan seorang tukan ibadah tadi yang terkalahkan oleh godaan Iblis yang memberinya harta yang banyak tanpa melalui proses yang panjang dan melelahkan. Dalam istilah filsafat ada yang namanya pencarian kebenaran, dan pada ujungnya pencarian tersebut berhenti pada kebenaran yang hakiki yaitu; Tuhan. Dalam perjalanannya manusia mengalami proses penyelaman terhadap jiwa yang terus mencari tentang sebuah kebenarannya. Seperti juga, pencarian terhadap impian dan keinginan yang hilang.

Dari sinilah manusia akan selalu mengalami keindahan nantinya, kalau mereka telah melaksanakan segala keinginan dan cita-citanya dengan baik, dan hanya segalanya disandarkan pada Tuhan. Bukan disandarkan pada suatu tujuan, seperti yang telah dilakukan Tukan ibadah tadi yang keinginan untuk menebang sebuah pohon itu, perjalanan yang kedua kalinya hanya di dasarkan pada ketamakannya. Dan pada akhirnya ia terkalah oleh Iblis.

Saya selalu berharap segala sesuatu yang kita lakukan segalanya hanya karena Tuhan, bukan karena ingin mendapatkan sesuatu. Apakah sesuatu itu berupa barang, harta, dan apa saja yang membuat kita lupa akan tujuan yang pertama. Semoga segala impian, keinginan, dan cita-cita waktu kecil kita yang selalu ditanyakan oleh guru dan orang tua kita, hanya dilandaskan pada Tuhan semata. Karena dengan izin Tuhan segalanya akan mendapatkan kemenangan pada akhirnya, walaupun semua itu membutuhkan proses yang panjang dan melelahkan, dan sangat membosankan. Akan tetapi pada akhirnya nanti kita akan mendapatkan kemenangan sekaligus kebahagian. Semoga bermanfaat, amin. Wallahu’alam.

Cairo, 7/4/2010

Ajidin